SILABUS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

SILABUS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

( Mengeloa Perusahaan Digital )

Karangan : Kenneth C. Laudon & Jane P. Laudon

Edisi Kesepuluh

BAB I Sistem Informasi dalam kegiatan Bisnis saat ini

1.1 Peranan sistem informasi dalam bisnis saat ini

1.2 Perspektif dalam system informasi

1.3 Pendekatan kontenporer terhadap system informasi

1.4 Praktik Aplikasi penggunaan SIM

BAB II E – Business Global : Bagaimana Bisnis Menggunakan Sistem Informasi

2.1 Proses Bisnis dalam Sitem Informasi

2.2 Jenis Sistem Informasi Bisnis

2.3 Sistem yang melingkupi perusahaan

2.4 Fungsi system informasi pada bisnis

2.5 Praktik Aplikasi SIM

BAB III Sistem Informasi, Organisasi dan Strategi

3.1 Organisasi dan Sistem Informasi

3.2 Bagaimana Sistem Informasi mempengaruhi organisasi dan perusahaan

3.3 Menggunakan system informasi untuk mencapai keunggulan kompetitif

3.4 Menggunakan system untuk keunggulan kompetitif

3.5 Praktik aplikasi SIM

BAB IV Isu Sosial dan Etika dalam system informasi

4.1 Memahami isu etika dan sosial yang terkait dengan system informasi

4.2 Etika dalam masyarakat informasi

4.3 Dimensi moral dari system informasi

BAB V Insfratruktur TI dan Teknologi baru

5.1 Insfratuktur TI

5.2 Komponen Insfratuktur

5.3 Trean Platform peranti Keras dan teknologi baru

5.4 Tren Platform peranti Lunak dan Teknologi Baru

5.5 Isu manajemen

BAB VI Dasar-dasar Intelegensi Bisnis : Basis data dan manajemen informasi

6.1 Mengorganisasikan data dalam lingkungan file tradisional

6.2 Pendekatan basis data terhadap pengelolaan data

6.3 Menngunakan basis data untuk meningkatkan kinerja bisnis dan proses pengambilan keputusa

6.4 Megelola sumber data

BAB VII Telekomunikasi, Internet dan teknologi Nirkabel

7.1 Telekomunikasi dan jaringan dalam dunia bisnis dewasa ini

7.2 Jaringan komunikasi

7.3 Internet

7.4 Revolusi Nirkabel

BAB VIII Melindungi Sistem Informasi

8.1 Kerentanan dan penyalahgunaan Sistem

8.2 Nilai Bisnis dari pengamanan dan pengendalian

8.3 Menetapan kerangka keja Untuk pengamanan dan pengendalian

8.4 Teknologi dan perangkat pengamanan

Dowload Materi lengkap di http://free-bahan-kuliah.blogspot.com/

Kumpulan bahan kuliah: judul, ekonomi, pariwisata, statistik, penelitian, metodologi, makro, mikro, pemasaran, perhotelan, sumberdaya manusia, akuntansi, sistem informasi, strategik, manajemen

Kumpulan bahan kuliah: judul, ekonomi, pariwisata, statistik, penelitian, metodologi, makro, mikro, pemasaran, perhotelan, sumberdaya manusia, akuntansi, sistem informasi, strategik, manajemen, dsbSekarang Kami Pindah Posting ke:

Padukan Pariwisata Pertanian dengan Teknologi Canggih

Padukan Pariwisata-Pertanian dengan Teknologi Canggih
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., MMA.

SEKTOR pariwisata hanya menyumbangkan 5% dari seluruh pendapatannya untuk Bali. Artinya ekonomi Bali sejak puluhan tahun yang lalu juga tetap lesu darah. Ternyata tidak jauh beda dengan nasib Papua dengan sektor pertambangan emasnya. Ternyata juga multiplier effect sektor pariwisata Bali terhadap sektor lainnya masih rendah bila dibandingkan dengan pariwisata di Hawaii, Italia, Prancis, dan lainnya.

Bali sebelum pariwisata bertumbuh dengan pesat masih mengandalkan sektor primer atau basis pertanian sebagai mata pencarian mayoritas penduduk. Zaman telah berubah, pariwisata dalam hitungan belasan tahun melejit sebagai kontributor PDRB Bali terbesar, sementara sektor pertanian perlahan-lahan terus menurun bahkan semakin tidak diminati oleh generasi muda. Di sinilah letak persoalan semua itu. Tidak disadari bahwa sektor pertanian memang tidak bisa digantikan oleh sektor mana pun. Di dunia ini harus ada yang menggeluti sektor ini karena manusia hidup pasti makan. Setidak-tidaknya suplai hasil produksi dari sektor pertanian pastilah akan diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perkembangan di negara-negara maju saat ini lagi nge-trend sistem ecommerce-nya. Beberapa abad sebelumnya dikenal juga istilah barter, dan commerce, semua itu harus tetap ada produk yang perdagangkan. Sementara di Bali, belum kuat betul dengan basis sektor primer sudah berani meninggalkannya dan menggantikannya dengan sektor pariwisata yang sangat rentan terhadap isu-isu global. Seharusnya sektor primer tetap diprioritaskan, sementara pariwisata juga dikembangkan dengan sistem modern.

Sebenarnya sektor pariwisata dapat berkolaborasi dengan sektor pertanian, sehingga manakala salah satu dari sektor ini terpuruk masih ada sektor lain yang dapat dibanggakan, begitu juga sebaliknya. Sektor pariwisata yang memiliki kemampuan mendulang devisa lebih banyak seharusnya mau mensubsidi lebih banyak lagi pada sektor pertanian sebagai sebuah tanggung jawab sosial dan moral sehingga keduanya dapat berkembang bersama-sama.

Di sisi lain, di negara-negara maju, sangat jelas di mana daerah perkotaan, perkebunan, pertanian, dan industrinya. Sementara di Bali bahkan di Indonesia sendiri sangat tidak jelas. Artinya tata ruang peruntukan wilayahnya sangat tidak jelas, kalaupun ada perencanaannya hanya di atas kertas. Pada akhirnya lahan-lahan pertanian yang seharusnya produktif beralih fungsi bahkan lebih parah lagi menjadi lahan tidur.

Semua persoalan tersebut telah terjadi. Lalu solusinya adalah pemerintah turun tangan menggairahkan sektor pertanian dalam arti luas beserta sektor ikutannya seperti industri kecil dan rumah tangga. Zaman telah berubah, teknologi semakin canggih, harus dimanfaatkan sebagai sarana pengembangannya. Idealismenya adalah dengan memberikan sentuhan teknologi pada sektor primer ini sehingga generasi muda tidak malu tetapi bangga dengan profesi pada sektor primer ini. Mungkin saja di suatu saat nanti penduduk Bali mampu mengekspor hasil pertaniannya, tidak tergantung lagi dengan musim, artinya terus ada produksi. Di negara-negara maju telah mampu mengekspor jasa sebagai sumber devisa terbesarnya. Untuk mengekspor jasa sangat diperlukan kompetensi global. Artinya para pengambil kebijakan jangan lagi membuat standar lokalan. Dalam konteks Ajeg Bali, Bali harus mampu beradaptasi dan berubah seiring perkembangan dan dinamika globalisasi jika mau Bali ini ajeg.

Penulis, dosen tetap Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Pusat Pendidikan & Latihan Pariwisata Dhyana Pura, Badung, alumnus Pascasarjana Magister Manajemen Agribisnis Unud, Mahasiswa Master of Arts in International Leisure and Tourism Studies CHN University, Leuuwarden, Netherlands

Kemiskinan Pendidikan Kebodohan

Kita harus mau mengakui bahwa kita bangsa yang korup karena memang benar adanya. Seiring dengan itu marilah kita sadar diri bahwa perjuangan saat ini bukanlah melawan penjajahan fisik, namun kemiskinan, kebodohan dan peperangan melawan korupsi.

——————————-

”Paket” Kemiskinan-Pendidikan-Kebodohan
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama, MMA

MENURUT catatan ADB, ternyata mayoritas masyarakat miskin Indonesia bekerja di sektor pertanian. Artinya jika penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian berjumlah 100 juta orang, kita dapat membayangkan berapa banyaknya masyarakat Indonesia berada pada garis kemiskinan. Jika kita lihat masyarakat Bali yang masih mayoritas sebagai petani, itu juga dapat dipakai sebagai indikator bahwa masyarakat Bali masih banyak berada dalam garis kemiskinan walaupun sektor pariwisata memang harus diakui telah berhasil menjadi primadona Bali. Karena masyarakat Bali mayoritas sebagai petani, ada juga indikasi bahwa mereka tidak akan mampu menyekolahkan anak-anak mereka sampai benar-benar siap untuk bekerja. Jika semakin banyak anak-anak kita yang putus sekolah, bagaimana Bali ini bisa ajeg?

——————–

Dalam konteks pembangunan ke depan, sudah saatnya yel-yel dan dogma lama yang bernuansakan rayuan pulau kelapa dihilangkan karena itu juga membuat kita menjadi bangsa yang manja dan tak mau bekerja keras. Tidak ada lagi tongkat menjadi tanaman, tidak ada lagi nyiur hijau melambai-lambai, tidak ada lagi lautan menjadi kolam susu. Kita harus mau mengakui bahwa kita telah menjadi miskin, tanah sudah tidak sesubur dulu lagi karena tanah kita sudah terkena dampak penyempitan lahan dan tercemar limbah. Kita harus mau mengakui bahwa kita bangsa yang korup karena memang benar adanya. Seiring dengan itu marilah kita sadar diri bahwa perjuangan saat ini bukanlah melawan penjajahan fisik, namun kemiskinan, kebodohan dan peperangan melawan korupsi.

Coba kita lihat bangsa lain seperti Jepang, kenapa mereka mampu menjadi bangsa yang besar dan diperhitungkan di muka bumi ini, walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki kekayaan alam semelimpah kekayaan alam Indonesia. Karena masyarakatnya yang tidak manja dan pekerja keras, masyarakat yang tekun menuntut ilmu, masyarakat yang tidak korup, masyarakat yang mau mengakui bahwa dirinya memang miskin sehingga mereka harus bekerja keras.

Pemimpin yang bersih dan berjiwa kesatria (mau mengakui kesalahan jika memang bersalah), klian, lurah, camat, bupati, gubernur, menteri-menteri yang mau memperjuangkan kepentingan rakyat, pemimpin yang layak ditiru dan digugu serta mampu menggerakkan masyarakat untuk bekerja keras sangat dinanti-nantikan saat ini.

Minimal tiga bidang yang menjadi dasar kebangkitan dan kemajuan sebuah bangsa dengan asumsi, tidak ada korupsi lagi.

Bidang Pangan

Ada anggapan yang mengatakan, jika masyarakat cukup pangan menurut standar gizi dan nutrisi yang ideal maka masyarakat akan hidup sehat. Artinya, pembangunan diarahkan untuk memenuhi pangan masyarakat, pangan tidak saja bermakna ”beras” namun juga termasuk jenis pangan yang lainnya. Harus ada inovasi-inovasi untuk menggerakkan sektor pertanian agar berdaya dan bangga dengan sektor pertanian yang memang nyata-nyata masih dilakoni oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Sekolah-sekolah, fakultas pertanian digairahkan lagi bila perlu diberikan beasiswa khusus bagi mereka yang mau melanjutkan ke bidang tersebut dan tentu juga diarahkan untuk menjadi wirausahawan di bidang pertanian. Budi daya dengan sentuhan teknologi dan pembinaan petani untuk menjadi petani yang mampu bekerja dengan prinsip agrobisnis. Daripada membuat petani Vietnam menjadi kaya, kenapa tidak petani kita saja yang disubsidi agar mampu hidup layak? Daripada mensubsidi sepak bola kenapa petani ditinggalkan? Sektor perbankan yang memiliki kebijakan khusus untuk penyaluran modal ke petani masih terus diperlukan, pembinaan para penyuluh pertanian yang sempat hilang digairahkan kembali.

Bidang Kesehatan

Sangat aneh kita lihat, hampir setiap tahun kita mendengar dan menyaksikan namanya wabah demam berdarah, flu burung, dan berbagai jenis wabah lainnya, kenapa bisa terus terjadi? Persoalannya karena bidang kesehatan masih kurang mendapat perhatian yang serius, jikalau ada pembangunan rumah sakit yang canggih dan mewah itu hanyalah tujuan bisnis semata seolah-olah perkembangan jumlah orang sakit akan menjadi trend positif bagi keuntungan pengelola rumah sakit.

Kenapa kita tidak menyadari semua itu? Kalau penyakit atau wabah bisa dicegah kenapa harus terjadi setiap tahun? Kalau Pulau Bali sampai terpublikasi dan terindikasi sebagai pulau yang tidak sehat, karena masyarakatnya yang banyak sakit, apa jadinya pulau ini?

Ada indikasi, banyak para pekerja di bidang kesehatan tidak dilandasi pada prinsip pelayanan kemanusiaan yang sesungguhnya karena dari rekrutmen awal sudah harus membayar dengan harga yang mahal, sehingga melahirkan seorang pekerja yang juga tidak sungguh-sungguh melayani sesama. Ditambah lagi memang kurangnya perhatian pemerintah terhadap bidang kesehatan, seolah-olah keberadaan penyakit dibiarkan begitu saja. Daripada memberikan tunjangan kepada anggota dewan yang sudah kaya dengan gajinya, kenapa tidak dipakai untuk subsidi bidang kesehatan bagi masyarakat miskin saja. Kenapa para petugas kesehatan hanya menunggu pasien di rumah sakit? Bukankah melakukan pengamatan langsung di lapangan jauh lebih baik sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.

Bidang Pendidikan

Masih kurangnya perhatian pemerintah pada bidang pendidikan masih sangat terasa. Besarnya angka drop-out masih dianggap biasa-biasa saja, kurangnya fasilitas sekolah negeri, rendahnya kualitas guru imbas dari rendahnya pendapatannya kurang mendapat perhatian yang serius. Rekrutment calon guru yang berbau KKN masih tetap ada di tengah gema reformasi. Daripada mensubsidi sepakbola kenapa tidak membangun perpustakaan keliling, internet keliling, dan fasilitas lain yang berkaitan dengan pendidikan. Bukan berarti mengganggap sepakbola tidak penting, namun ada yang lebih penting untuk diperhatikan. Jika masyarakat kita pintar maka pembangunan akan dapat dilakukan dengan baik. Jika masyarakat kita bodoh karena tidak mendapatkan pendidikan yang cukup, maka kita akan menjadi masyarakat yang gampang ditipu termasuk juga oleh pemimpin kita sendiri.

Akhirnya, jika bangsa cukup makan, rumah, dan juga pakaian maka bangsa ini hidup sehat dan mampu menuntut ilmu dengan baik untuk perbaikan generasi yang akan datang.

Penulis, alumnus Magister Manajemen Agribisnis Universitas Udayana, mahasiswa MA International in Leisure and Tourism Studies CHN Belanda, dosen STIM Dhyana Pura Badung

Kegagalan di Balik Kesuksesan Pariwisata Bali

Hal-hal yang berbau tradisional dianggap kuno untuk diadopsi di industri pariwisata, sebut saja misalnya sulitnya makanan tradisional menjadi menu utama pada hotel-hotel di Bali. Masyarakat Bali hanya kebagian remah-remah dari derap laju pariwisata di daerahnya.

——————————

Kegagalan di Balik Kesuksesan Pariwisata Bali
Oleh IGB Rai Utama, S.E., MMA.

CHRIS Cooper dkk. (2005) mengganggap bahwa kegagalan pembangunan pariwisata untuk membangun ekonomi masyarakat lokal di sebuah destinasi sering disebabkan oleh adanya gap antara mitos dan kenyataan tentang pariwisata itu sendiri. Di kalangan lembaga pendidikan dan institusi pariwisata dan perhotelan juga sering bermitos pada hal yang sama.

——————-

Sejak dulu, pariwisata Bali telah dipropagandakan sebagai sebuah tujuan wisata internasional, dianggap para wisatawan yang datang ke Bali kebanyakan adalah orang asing, padahal dalam kenyataan di lapangan wisatawan domestik nampak lebih banyak daripada orang asing itu sendiri. Wisatawan domestik tidak dilayani secara maksimal dan cenderung kita sebagai karyawan di bidang pariwisata atau perhotelan menganggap wisatawan domestik tidak berduit, kikir, dan kumal. Misalnya, ketika wisatawan domestik mengunjungi sebuah artshop, jangan harap dapat dilayani layaknya wisatawan asing karena masyarakat kita sendiri telah terlalu tinggi bermitos bahwa wisatawan asing pasti berkantong tebal. Ketika kita mengalami krisis wisatawan asing, kita baru tersadar bahwa wisatawan domestik sangat berharga bagi kita. Kenyataan ini juga sebenarnya peluang dan kesempatan bagi para pelaku pariwisata di Bali untuk mengemas sebaik mungkin pariwisata itu sendiri dari penanaman etika akan nilai-nilai kemanusiaan bahwa semua manusia entah dia sebagai wisatawan asing atau domestik adalah sama derajat, bukan diukur atas mitos materialisme belaka.

Mitos yang sama juga terjadi pada dunia transportasi, di mana pariwisata Bali dianggap hanya bisa dijangkau oleh transportasi udara. Kenyataan ini bisa kita lihat bahwa pembangunan pada fasilitas transportasi udara jauh lebih maju daripada pembangunan trasportasi laut dan transportasi darat. Sumber daya dan kenyataan bahwa Indonesia negeri maritim tidak mendapat perhatian yang maksimal dan cenderung diabaikan. Pelabuhan laut dibangun ala kadarnya untuk kapal bisa bersandar saja. Lebih parah lagi dengan transportasi darat, penataan jalan raya yang amburadul akan menyebabkan kemacetan di mana-mana, padahal dalam kenyataan para wisatawan secara langsung berhadapan dengan fasilitas ini. Sistem transportasi umum yang tidak memiliki standar yang jelas sangat bertolak belakang dengan mitos tentang daerah tujuan wisatawan internasional.

Kegiatan pariwisata dianggap hanya sebagai kegiatan berlibur dan bersenang-senang, padahal dalam kenyataan pariwisata itu sendiri sering dikemas dengan kegiatan lain seperti misalnya rapat-rapat entah pada level internasional, nasional, bahkan level perusahaan. Pariwisata juga sering dikemas dengan paket program pendidikan seperti studi trip, olah raga, hobi, politik, dan kegiatan lain yang cenderung akan terus berkembang. Praktisi pariwisata dapat mengambil kenyataan ini sebagai peluang untuk memperkaya jenis paket wisata yang tidak hanya mengandalkan paket liburan saja.

Bahasa Asing

Kita sering dimitoskan bahwa jika ingin terjun pada pekerjaan bidang pariwisata harus mampu berbahasa asing setidak-tidaknya mampu berbahasa Inggris. Kenyataan di lapangan hanya sedikit para pekerja yang terlibat langsung dengan keharusan berbahasa asing. Sebut saja misalnya para pemandu wisata, para pelayan restoran dan kamar, pegawai pada kantor depan, dan selebihnya hampir dapat dibilang tidak secara langsung berhubungan dengan bahasa asing. Penekanan pembangunan SDM hanya dititikberatkan pada penguasaan bahasa asing, dan cenderung melupakan pembangunan etika kerja, budaya, dan kemanusiaan. Masalah yang timbul sekarang adalah terbentuknya masyarakat Bali yang materialistik dan cenderung kehilangan rasa persahabatan antarsesama. Hal-hal yang berbau tradisional dianggap kuno untuk diadopsi di industri pariwisata, sebut saja misalnya sulitnya makanan tradisional menjadi menu utama pada hotel-hotel di Bali.

Hotel-hotel dibangun sangat megah dan cenderung mengadopsi teknologi dan budaya negara maju karena dibangun oleh perusahaan multinasional itulah mitos yang telah terbentuk di benak para pendahulu kita. Pada akhirnya hal ini telah melahirkan kesenjangan antara lokal dan internasional. Masyarakat Bali hanya kebagian remah-remah dari derap laju pariwisata di daerahnya. Kenyataan ini terjadi karena para pendahulu kita terlalu bermitos yang serba internasional, padahal pariwisata kita sendiri menjual ketradisionalan Bali sebagai daya tarik utamanya. Sandangkan pariwisata budaya hampir tidak terasa lagi karena budaya masyarakat telah berubah begitu cepatnya, langkanya SDM yang mempelajari budaya, seni dan berkesenian akibat kurangnya penghargaan dan perhatian pada bidang tersebut telah mengurangi keunikan Bali sebagai destinasi pariwisata budaya. Sulitnya masyarakat lokal bergabung pada bisnis pariwisata saat ini juga karena kita bermitos terlalu internasional.

Pariwisata telah terlalu jauh meninggalkan sektor yang lainnya, seolah-olah pariwisata dapat berjalan sendiri. Pariwisata tidak sekadar pembangunan hotel-hotel berbintang, restoran, biro perjalanan, namun lebih daripada itu semua. Pembangunan masyarakat Bali secara fisik dan mental sangat penting karena masyarakat merupakan bagian dari produk wisata itu sendiri. Pariwisata dianggap sebagai dewa perekonomian Bali, sementara sebagian besar masyarakat Bali tidak terlibat secara langsung pada kegiatan pariwisata. Peta pertumbuhan dan perkembangan pariwisata lebih berpusat pada radius seputar kawasan bandara dapat menjadi bukti bahwa pembangunan telah berjalan tanpa penataan yang baik.

Pembangunan pariwisata bukanlah pembangunan yang berdiri sendiri, namun pembangunan multisektoral yang saling berkaitan. Pembangunan pariwisata juga pembangunan manusia seutuhnya yang berlandaskan atas keseimbangan ekonomi, wilayah, dan kemanusiaan itu sendiri (profit-planet-people). Jika kita menyebut pembangunan pariwisata Bali harusnya pembangunan dapat menjangkau tujuan ekonomi, pemerataan wilayah pembangunan, dan pengembangan masyarakat Bali secara menyeluruh.

Penulis, dosen STIM Dhyana Pura Badung, alumnus Pascasarjana MMA Unud, dan mahasiswa MA International Leisure and Tourism Studies CHN University Netherlands

———————–

* Pembangunan masyarakat Bali secara fisik dan mental sangat penting karena masyarakat merupakan bagian dari produk wisata itu sendiri.

* Pembangunan pariwisata juga pembangunan manusia seutuhnya yang berlandaskan atas keseimbangan ekonomi, wilayah, dan kemanusiaan itu sendiri.

Stagnasi Pariwisata Bali

Inovasi dapat dilakukan dari yang paling tidak populer atau bahkan yang paling sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal. Kalau pemerintah telah membentuk tim pembentukan branding pariwisata Bali dan tidak melakukan inovasi secara holistik maka usaha tersebut akan sia-sia. Image haruslah sesuai dengan fakta. Misalnya jika kita menganggap branding pariwisata Bali adalah pariwisata budaya, benarkah di lapangan telah menunjukkan karakteristik sebagai sebuah kota atau destinasi yang berbudaya?

—————————

Stagnasi Pariwisata Bali
Oleh IGB Rai Utama, S.E., MMA.

BILA kita melihat perkembangan pariwisata Bali dan membandingkannya dengan siklus perkembangan daerah tujuan wisata maka kita sebenarnya telah berada pada titik stagnasi yang dihadapkan pada banyak dilema. Masalah gap antara sektor pembangunan, sebut saja misalnya pariwisata dengan pertanian, degradasi identitas Bali sebut saja misalnya komersialisasi tradisi dan prosesi keagamaan, degradasi kualitas lingkungan, polusi, kemacetan lalu lintas, kesemrawutan kota juga menambah deretan panjang persoalan pariwisata Bali.

———————–

Anggapan bahwa pariwisata Bali telah berada pada titik stagnasi dapat kita lihat dari indikator tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang cenderung menunjukkan angka yang stagnan bahkan beberapa tahun sebelumnya sempat menurun. Para praktisi pariwisata dan juga pemerintah daerah rupanya juga telah mengetahuinya. Namun sayang, kebijakan yang diambil masih terlihat bersifat sementara dan kurang menyeluruh untuk pembangunan pariwisata yang berkesinambungan. Sebut saja misalnya, para praktisi hotel di Bali cenderung mengobral harga kamarnya ketimbang penyelamatan kualitas destinasi pariwisata ke depan. Kita bisa bayangkan, karena masih banyak sumber daya yang digunakan pada dunia perhotelan masih disubsidi. Sebut saja misalnya energi listrik, air, dan juga tenaga kerja yang harus rela bekerja lebih keras karena tamu meningkat oleh sebab kamar diobral namun gaji tidak terlalu banyak bertambah. Lebih parah lagi jika wisatawan diarahkan hanya tinggal di hotel, sehingga kontak dengan objek wisata dan juga dengan masyarakat lokal akan berkurang. Akhirnya dampak pengganda untuk ekonomi masyarakat lokal akan dirasakan sangat kecil. Semua indikator ini menunjukkan bahwa kita berada pada titik kebingungan dan cenderung mengambil kebijakan yang bersifat sesaat.

Harus Ada Inovasi

Pengalaman di beberapa daerah tujuan wisata yang telah berada titik stagnasi telah mengambil langkah-langkah yang dianggap sebagai sebuah inovasi. Inovasi dapat dilakukan dari yang paling tidak populer atau bahkan yang paling sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal. Kalau pemerintah telah membentuk tim pembentukan branding pariwisata Bali dan tidak melakukan inovasi secara holistik maka usaha tersebut akan sia-sia. Image haruslah sesuai dengan fakta. Misalnya jika kita menganggap branding pariwisata Bali adalah pariwisata budaya, benarkah di lapangan telah menunjukkan karakteristik sebagai sebuah kota atau destinasi yang berbudaya?

Beberapa tahun yang lalu, sempat populer istilah redesain pariwisata Bali namun sayang belum jelas seperti apa pariwisata Bali ini diharapkan ke depan. Kasino juga sempat menjadi wacana yang panas, apakah mungkin dilakukan? Mungkin saja bisa namun apakah cocok dengan harapan sebagian besar masyarakat? Itu yang menjadi persoalannya. Ketika kita berjalan-jalan di sekitar kota London dan mengunjungi tempat-tempat wisata yang masih tertata dengan rapi, bersih dan terawat, kita dapat membayangkan wisatawan akan pulang dengan membawa kesan yang luar biasa dan cenderung akan menjadi media promosi yang sangat efektif. Coba kita bandingkan dengan Bali, apa yang terjadi, kemacetan di hampir di setiap ruas jalan, kota yang dipenuhi dengan sampah, air sungai yang tercemar, kriminalitas, objek-objek wisata yang tidak tertata dan tidak terawat dengan serius akan menjadi berita buruk bagi calon wisatawan dan pastilah akan menimbulkan kesan yang kurang baik.

Pernah ekowisata sempat menjadi wacana, namun sayang Bali tidak terlalu kuat menunjukkan karakteristik destinasi ekowisata. Lalu model inovasi seperti apakah yang cocok buat Bali? Mungkinkah agrowisata? Persoalannya, mungkinkah masyarakat perhotelan menyetujuinya?

Kualitas Destinasi

Meningkatkan kualitas destinasi haruslah dilakukan sebagai usaha yang menyeluruh bagi semua elemen produk wisata, dari transportasi, hotel, restoran, objek wisata, dan tentu juga pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan. Sekarang yang menjadi persoalannya adalah masalah standarnya seperti apa? Kalau wisatawan merasa takut melakukan perjalanan ke Bali dengan alasan keselamatan penumpang tidak terjamin, artinya kita harus meningkatkan kualitas transportasi yang ada. Kalau hotel sepi wisatawan itu merupakan efek domino dari persoalan yang lain karena wisatawan datang ke Bali tidak hanya ingin tinggal di hotel saja. Bagaimana wisatawan mau datang ke Bali jika objek wisata dan komponen yang lainnya tidak sesuai dengan harapan wisatawan. Taman kota yang tidak terawat dan langkanya ruang hijau terbuka juga memperburuk kesan kota.

Antara brosur yang dibaca dan dilihat tentang Bali sudah tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Masyarakat kita yang tidak ramah lagi terhadap wisatawan, juga menjadi masalah yang serius bagi kualitas destinasi. Introspeksi diri juga sebenarnya bagian dari usaha meningkatkan kualitas destinasi. Kesalahan yang telah dibuat di masa lalu akan menjadi pelajaran yang sangat berguna untuk masa depan. Sebut saja kelemahan keamanan Bali sampai-sampai bom meledak untuk kedua kalinya juga menjadi pesan yang berguna untuk meningkatkan keamanan, sehingga kesan terhadap Bali juga akan menjadi lebih baik.

Kualitas lingkungan juga harus menjadi perhatian yang serius. Untuk hal ini pariwisata mestinya berjalan bersama dengan pertanian dalam arti luas yang diharapkan dapat menjadi benteng kelestarian alam Bali dengan kekayaan konsep subak dan Tri Hita Karana (THK). Sehingga branding Pariwisata Budaya benar-benar sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Pemerintah dan wakil rakyat yang mempunyai legitimasi dalam perumusan kebijakan semestinya melihat stagnasi pariwisata Bali sebagai langkah awal untuk malakukan inovasi secara holistik. Sedangkan para praktisi pariwisata dan perhotelan serta masyarakat Bali secara menyeluruh dapat memandang perlunya melakukan inovasi sebagai hal yang urgen. Inovasi yang dilakukan semestinya tidak berlawanan dengan Identitas Bali. Jika kita tidak melakukan inovasi, jangan harap kita dapat bermimpi indah lagi dengan pariwisata kita, karena di luar Indonesia sudah bertebaran destinasi baru yang siap memberikan harapan dan kualitas yang mungkin lebih baik dari pariwisata Bali.

Penulis, dosen STIM Dhyana Pura Badung, alumnus Pascasarjana MMA Unud, dan mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN University Netherlands

———————————–

* Meningkatkan kualitas destinasi haruslah dilakukan sebagai usaha yang menyeluruh bagi semua elemen produk wisata.

* Introspeksi diri juga sebenarnya bagian dari usaha meningkatkan kualitas destinasi.

* Pariwisata mestinya berjalan bersama dengan pertanian dalam arti luas yang diharapkan dapat menjadi benteng kelestarian alam Bali dengan kekayaan konsep subak dan Tri Hita Karana (THK).

* Pemerintah dan wakil rakyat yang mempunyai legitimasi dalam perumusan kebijakan semestinya melihat stagnasi pariwisata Bali sebagai langkah awal untuk malakukan inovasi secara holistik.

Makanan Pokok Orang Indonesia

Ubah ”Image” Makanan Pokok Orang Indonesia
Oleh I Gusti Bagus Rai Utama

PEMERINTAH berdalih hampir seluruh rakyat Indonesia makanan pokoknya adalah beras, maka dianggap perlu untuk melakukan campur tangan terhadap harga beras dengan menetapkan harga minimum dan sekaligus menentukan patokan harga tertinggi. Adapun tujuan dari intervensi pemerintah tersebut adalah untuk menciptakan stabilitas politik sekaligus juga stabilitas harga beras dengan dalih demi kepentingan rakyat. Tetapi sebenarnya hanya kepentingan sisi kepentingan politik.

Sementara ada persoalan yang paling mendasar kenapa kita sebagai bangsa Indonesia sangat rentan dengan perberasan, karena memang telah dibentuk sedemikian rupa agar kondisi ini dapat dipakai sebagai kendali kaum politikus yang sedang menari di lini kekuasaan dengan alasan stabilitas dan sebagainya. Ditambah lagi peran kaum importir dan pengusaha beras yang ikut memancing di air keruh dengan harapan demi keuntungan usahanya. Sedangkan kaum petani sebagai mayoritas dari penduduk di negeri ini, ibaratnya sudah jatuh ditimpa tangga pula.

Sementara kelemahan pertanian di Indonesia pada umumnya masih terletak pada kelemahan penanganan pascapanen. Misalnya belum adanya teknologi yang merakyat untuk melakukan penyimpanan bahan pangan. Masih langkanya industri pengolahan sehingga beras yang saat ini dapat disimpan secara tradisional dalam jangka waktu yang lama masih dianggap sebagai produk unggulan.

Semakin merosotnya lahan-lahan produktif untuk pertanian padi memang juga menjadi dilema yang serius, sementara rakyat Indonesia yang sudah telanjur enak makan beras semakin bertambah. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap petani juga turut menjadi pemicu akan alih fungsi lahan pertanian dan pindahnya tenaga kerja ke sektor lain yang dianggap dapat menjanjikan pendapatan yang lebih besar.

Dilema bagi petani, komponen-komponen produksi beras seperti pupuk, obat-obatan, bahan bakar atau suku cadang traktor, kenaikan upah pekerja, juga menjadi rintangan besar untuk meningkatkan kesejahteraannya, ditambah lagi kurangnya subsidi terhadap petani bahkan saat ini hampir tidak ada. Sehingga, kalaupun ada petani ingin melakukan diversifikasi terhadap lahannya terbentur keterbatasan modal, apalagi bunga bank juga tinggi.

Sebenarnya ada sumber daya lain yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan kalau sebagai negara kepulauan dengan segala keanekaragaman sumber daya hayati dan nonhayati dapat diolah secara maksimal. Kita bisa lihat bahwa kita punya laut untuk menghasilkan ikan, kita punya daerah misalnya untuk menghasilkan jagung, kita punya daerah untuk menghasilkan ubi, komoditi perkebunan dan lain sebagainya, yang semuanya sangat lemah pada penanganan pascapanen dan teknologi pendukungnya.

Yang penting sekarang adalah bagaimana mengubah image bahwa makanan pokok orang Indonesia bukanlah hanya beras. Kalau sebagai orang Indonesia kita malu makan gaplek, itu hanyalah karena kurangnya teknologi untuk mengolah gaplek menjadi makanan yang lebih prestisius lagi misalnya mengolahnya menjadi roti. Begitu juga dengan jagung, bagaimana mengolah jagung menjadi makanan siap santap yang menunjukkan makanan tersebut layak dikonsumsi oleh siapa saja termasuk seorang presiden sekalipun, dengan memberikan kemasan yang menarik.

Janji-janji seorang politikus yang sekarang sedang berkuasa, yang dulunya semasa kampanye akan melakukan revitalisasi sektor pertanian hanyalah mimpi belaka dan akhirnya rakyat yang sudah telanjur terpesona hanya bisa gigit jari.

Penulis, alumnus Magister Manajemen Agribisnis Universitas Udayana, mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN Belanda, dosen tetap STIM Dhyana Pura Badung