Stagnasi Pariwisata Bali

Inovasi dapat dilakukan dari yang paling tidak populer atau bahkan yang paling sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal. Kalau pemerintah telah membentuk tim pembentukan branding pariwisata Bali dan tidak melakukan inovasi secara holistik maka usaha tersebut akan sia-sia. Image haruslah sesuai dengan fakta. Misalnya jika kita menganggap branding pariwisata Bali adalah pariwisata budaya, benarkah di lapangan telah menunjukkan karakteristik sebagai sebuah kota atau destinasi yang berbudaya?

—————————

Stagnasi Pariwisata Bali
Oleh IGB Rai Utama, S.E., MMA.

BILA kita melihat perkembangan pariwisata Bali dan membandingkannya dengan siklus perkembangan daerah tujuan wisata maka kita sebenarnya telah berada pada titik stagnasi yang dihadapkan pada banyak dilema. Masalah gap antara sektor pembangunan, sebut saja misalnya pariwisata dengan pertanian, degradasi identitas Bali sebut saja misalnya komersialisasi tradisi dan prosesi keagamaan, degradasi kualitas lingkungan, polusi, kemacetan lalu lintas, kesemrawutan kota juga menambah deretan panjang persoalan pariwisata Bali.

———————–

Anggapan bahwa pariwisata Bali telah berada pada titik stagnasi dapat kita lihat dari indikator tingkat kunjungan wisatawan asing ke Bali, yang cenderung menunjukkan angka yang stagnan bahkan beberapa tahun sebelumnya sempat menurun. Para praktisi pariwisata dan juga pemerintah daerah rupanya juga telah mengetahuinya. Namun sayang, kebijakan yang diambil masih terlihat bersifat sementara dan kurang menyeluruh untuk pembangunan pariwisata yang berkesinambungan. Sebut saja misalnya, para praktisi hotel di Bali cenderung mengobral harga kamarnya ketimbang penyelamatan kualitas destinasi pariwisata ke depan. Kita bisa bayangkan, karena masih banyak sumber daya yang digunakan pada dunia perhotelan masih disubsidi. Sebut saja misalnya energi listrik, air, dan juga tenaga kerja yang harus rela bekerja lebih keras karena tamu meningkat oleh sebab kamar diobral namun gaji tidak terlalu banyak bertambah. Lebih parah lagi jika wisatawan diarahkan hanya tinggal di hotel, sehingga kontak dengan objek wisata dan juga dengan masyarakat lokal akan berkurang. Akhirnya dampak pengganda untuk ekonomi masyarakat lokal akan dirasakan sangat kecil. Semua indikator ini menunjukkan bahwa kita berada pada titik kebingungan dan cenderung mengambil kebijakan yang bersifat sesaat.

Harus Ada Inovasi

Pengalaman di beberapa daerah tujuan wisata yang telah berada titik stagnasi telah mengambil langkah-langkah yang dianggap sebagai sebuah inovasi. Inovasi dapat dilakukan dari yang paling tidak populer atau bahkan yang paling sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal. Kalau pemerintah telah membentuk tim pembentukan branding pariwisata Bali dan tidak melakukan inovasi secara holistik maka usaha tersebut akan sia-sia. Image haruslah sesuai dengan fakta. Misalnya jika kita menganggap branding pariwisata Bali adalah pariwisata budaya, benarkah di lapangan telah menunjukkan karakteristik sebagai sebuah kota atau destinasi yang berbudaya?

Beberapa tahun yang lalu, sempat populer istilah redesain pariwisata Bali namun sayang belum jelas seperti apa pariwisata Bali ini diharapkan ke depan. Kasino juga sempat menjadi wacana yang panas, apakah mungkin dilakukan? Mungkin saja bisa namun apakah cocok dengan harapan sebagian besar masyarakat? Itu yang menjadi persoalannya. Ketika kita berjalan-jalan di sekitar kota London dan mengunjungi tempat-tempat wisata yang masih tertata dengan rapi, bersih dan terawat, kita dapat membayangkan wisatawan akan pulang dengan membawa kesan yang luar biasa dan cenderung akan menjadi media promosi yang sangat efektif. Coba kita bandingkan dengan Bali, apa yang terjadi, kemacetan di hampir di setiap ruas jalan, kota yang dipenuhi dengan sampah, air sungai yang tercemar, kriminalitas, objek-objek wisata yang tidak tertata dan tidak terawat dengan serius akan menjadi berita buruk bagi calon wisatawan dan pastilah akan menimbulkan kesan yang kurang baik.

Pernah ekowisata sempat menjadi wacana, namun sayang Bali tidak terlalu kuat menunjukkan karakteristik destinasi ekowisata. Lalu model inovasi seperti apakah yang cocok buat Bali? Mungkinkah agrowisata? Persoalannya, mungkinkah masyarakat perhotelan menyetujuinya?

Kualitas Destinasi

Meningkatkan kualitas destinasi haruslah dilakukan sebagai usaha yang menyeluruh bagi semua elemen produk wisata, dari transportasi, hotel, restoran, objek wisata, dan tentu juga pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan. Sekarang yang menjadi persoalannya adalah masalah standarnya seperti apa? Kalau wisatawan merasa takut melakukan perjalanan ke Bali dengan alasan keselamatan penumpang tidak terjamin, artinya kita harus meningkatkan kualitas transportasi yang ada. Kalau hotel sepi wisatawan itu merupakan efek domino dari persoalan yang lain karena wisatawan datang ke Bali tidak hanya ingin tinggal di hotel saja. Bagaimana wisatawan mau datang ke Bali jika objek wisata dan komponen yang lainnya tidak sesuai dengan harapan wisatawan. Taman kota yang tidak terawat dan langkanya ruang hijau terbuka juga memperburuk kesan kota.

Antara brosur yang dibaca dan dilihat tentang Bali sudah tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Masyarakat kita yang tidak ramah lagi terhadap wisatawan, juga menjadi masalah yang serius bagi kualitas destinasi. Introspeksi diri juga sebenarnya bagian dari usaha meningkatkan kualitas destinasi. Kesalahan yang telah dibuat di masa lalu akan menjadi pelajaran yang sangat berguna untuk masa depan. Sebut saja kelemahan keamanan Bali sampai-sampai bom meledak untuk kedua kalinya juga menjadi pesan yang berguna untuk meningkatkan keamanan, sehingga kesan terhadap Bali juga akan menjadi lebih baik.

Kualitas lingkungan juga harus menjadi perhatian yang serius. Untuk hal ini pariwisata mestinya berjalan bersama dengan pertanian dalam arti luas yang diharapkan dapat menjadi benteng kelestarian alam Bali dengan kekayaan konsep subak dan Tri Hita Karana (THK). Sehingga branding Pariwisata Budaya benar-benar sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Pemerintah dan wakil rakyat yang mempunyai legitimasi dalam perumusan kebijakan semestinya melihat stagnasi pariwisata Bali sebagai langkah awal untuk malakukan inovasi secara holistik. Sedangkan para praktisi pariwisata dan perhotelan serta masyarakat Bali secara menyeluruh dapat memandang perlunya melakukan inovasi sebagai hal yang urgen. Inovasi yang dilakukan semestinya tidak berlawanan dengan Identitas Bali. Jika kita tidak melakukan inovasi, jangan harap kita dapat bermimpi indah lagi dengan pariwisata kita, karena di luar Indonesia sudah bertebaran destinasi baru yang siap memberikan harapan dan kualitas yang mungkin lebih baik dari pariwisata Bali.

Penulis, dosen STIM Dhyana Pura Badung, alumnus Pascasarjana MMA Unud, dan mahasiswa MA in International Leisure and Tourism Studies CHN University Netherlands

———————————–

* Meningkatkan kualitas destinasi haruslah dilakukan sebagai usaha yang menyeluruh bagi semua elemen produk wisata.

* Introspeksi diri juga sebenarnya bagian dari usaha meningkatkan kualitas destinasi.

* Pariwisata mestinya berjalan bersama dengan pertanian dalam arti luas yang diharapkan dapat menjadi benteng kelestarian alam Bali dengan kekayaan konsep subak dan Tri Hita Karana (THK).

* Pemerintah dan wakil rakyat yang mempunyai legitimasi dalam perumusan kebijakan semestinya melihat stagnasi pariwisata Bali sebagai langkah awal untuk malakukan inovasi secara holistik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s